Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai takut diam.
Mungkin sejak smartphone menjadi perpanjangan tangan. Mungkin sejak notifikasi email kantor menyusup ke meja makan. Atau mungkin sejak aku menyadari bahwa refleks pertamaku setiap pagi—bahkan sebelum kakiku menyentuh lantai—adalah meraih layar kecil yang menyala itu. Membuka mata, membuka Instagram. Menyikat gigi, scrolling Twitter. Minum kopi, membalas WhatsApp.